Bagaimana Anda menangani pertanyaan yang dilemparkan Audiens Anda?

Tak jarang ketika Anda sedang atau sesudah presentasi, Anda dihadapkan dengan pertanyaan bertubi-tubi. Apalagi ketika poin yang telah Anda sampaikan meninggalkan pertanyaan-pertanyaan dibenak audiens. Tak jarang juga yang sangat kritis dan menggali semua yang Anda tahu, sampai Anda tidak punya jawaban dan tidak bisa menjawabnya.

Ketika tidak bisa menjawab, Anda bisa terjebak dan beresiko mengorbankan kredibilitas Anda sebagai presenter atau pembicara.

Bagaimana Anda menyikapi ini?

Menurut Frank J. Carillo, President, Executive Communication Group (ECG), secara umum ada tiga teknik yang bisa Anda lakukan untuk menghindari kegagalan dalam menjawab pertanyaan yang sulit dan tak bisa dijawab.

 

Pertama, Bridging.

 Apa yang dimaksud dengan bridging adalah memindahkan satu poin ke yang lain. Biasanya dari pertanyaan yang detil di konversikan menjadi satu pertanyaan dalam skala yang luas. Sehingga, jawaban bisa dikondisikan. Ini dilakukan dengan menerapkan pernyataan transisional.

Seperti contoh, “Apa yang Anda utarakan benar di beberapa konteks, namun, kita harus melihat permasalahan ini dalam konteks yang lebih luas….” pernyataan ini mengantarkan Anda untuk bisa menjawab berdasarkan perspektif yang lebih luas. Ini memberikan keleluasaan bagi Anda untuk menjawab berdasarkan kemampuan Anda. Disisi lain, Anda harus memastikan bridging ini tidak keluar terlalu jauh dari apa yang ditanyakan Audiens.

 

Kedua, adalah Reframing.

 Reframing adalah mengkonversi sebuah pertanyaan sulit dari audiens menjadi pertanyaan yang Anda paling mengerti untuk menjawabnya. Ini akan meyakinkan dua hal, pertama membuat penanya merasa terdengar, dan yang kedua membuat Anda yakin bisa memberikan jawaban yang maksimal mungkin. Ini bisa dilakukan dengan memperbaiki pertanyaan itu atau mengubah fokus pertanyaan itu sendiri.

Anda mengubah pertanyaan A menjadi pertanyaan B yang terikat satu sama lain. Dimana B lebih bisa Anda Jawab daripada A. Itulah inti dari reframing. Hal ini harus mempunyai koneksi satu sama lain, antara pertanyaan original dan yang sudah di ubah.

 

Ketiga adalah Redirecting.

Apa yang akan Anda jawab ketika ditanya sesuatu yang sudah pasti tidak bisa dijawab atau tidak bisa Anda berikan jawaban dalam presentasi Anda?

Jika Anda memaksa untuk menjawab dengan apa yang Anda tahu, Karir dan reputasi Anda akan beresiko. Untuk itu, teknik redirecting adalah mengakui jika dengan sigap bahwa Anda tidak bisa menjawab itu, namun tidak meninggalkan jejak yang ambigu.

Contoh redirecting sebagai berikut; “Saya minta maaf karena tidak bisa mengutarakan jawaban yang ditanya oleh Anda, mengingat otoritas saya yang terbatas dan peraturan perusahaan yang harus saya jaga. Namun, yang bisa saya katakan ….”

 

Anda bisa memberikan kartu nama untuk menawarkan diskusi lebih lanjut dengan penanya Anda di luar sesi presentasi, agar reputasi dan kredibilitas Anda tetap terjaga dengan baik.

Terakhir, ketika Anda memutuskan untuk bridging, reframing, dan redirecting, pastikan Anda tidak kembali ke pertanyaan awal.

 

Bila Anda ingin tahu lebih banyak mengenai desain presentasi dan tips membuat presentasi yang powerful silahkan ikuti workshop Powerful Point dari Tokopresentasi.com, dim

Untuk pendaftaran workshop Powerful Point, klik di sini

Jadwal public class selama tahun 2017, klik di sini

Website: www.tokopresentasi.com

Email: info@tokopresentasi.com

Phone: 0812 8905 030 / 0812 8816 5156

BBM: 5795FBDD